Juni 13, 2026

Al-Masyhur | Referensi Studi Agama & Literasi Budaya Dunia

Al-Masyhur merupakan portal informasi komprehensif mengenai sejarah religi, teologi, dan praktik keagamaan global. Memperluas wawasan melalui literasi agama yang objektif dan edukatif.

Mengenal Samaritanisme, Agama Abrahamik Kuno yang Bertahan

Mengenal Samaritanisme, Agama Abrahamik Kuno yang Bertahan | Di tengah keberagaman tradisi spiritual di Timur Tengah, terdapat sebuah komunitas religius kuno yang mempertahankan tradisi mereka selama ribuan tahun. Dikenal sebagai Samaritanisme, agama monoteistik Abrahamik ini dipraktikkan oleh orang-orang Samaria. Meskipun sering kali dibayangi oleh narasi agama-agama besar di sekitarnya, Samaritanisme memiliki identitas yang sangat unik, kuat, dan berakar langsung pada sejarah kuno wilayah Syam (Levant).

Agama ini berkerabat sangat dekat dengan Yudaisme. Keduanya sama-sama berpusat pada penyembahan Tuhan Yang Maha Esa, yang dalam tradisi kuno dikenal dengan sebutan YHWH. Kendati memiliki banyak kemiripan yang mencolok, perbedaan teologis dan geografis yang mendasar membuat Samaritanisme berdiri sebagai entitas religius yang sepenuhnya terpisah.

Kitab Suci dan Otoritas Keagamaan

samaritanisme-akar-sejarah-dan-inti-keyakinan-agama-abrahamik-kuno

Salah satu perbedaan paling mendasar antara Samaritanisme dan Yudaisme terletak pada kanon atau kumpulan kitab suci yang mereka akui. Jika umat Yahudi mengimani seluruh lini Alkitab Ibrani (Tanakh)—yang mencakup Taurat, kitab para nabi (Nevi’im), dan tulisan-tulisan (Ketuvim)—maka orang Samaria memiliki pandangan yang jauh lebih restriktif.

Taurat Samaria: Orang Samaria hanya mengakui lima kitab pertama yang dibawa oleh Nabi Musa (Pentateukh) sebagai satu-satunya kitab suci yang diwahyukan oleh Tuhan.

Menariknya, teks ini ditulis menggunakan aksara Samaria, sebuah varian kuno dari alfabet Paleo-Ibrani yang berbeda dari aksara kotak Ibrani modern yang kita kenal sekarang. Bagi komunitas ini, hukum-hukum yang termaktub dalam Pentateukh bersifat mutlak dan tidak dapat ditambah atau dikurangi oleh tulisan-tulisan generasi setelah Musa.

Gunung Gerizim: Pusat Spiritual yang Abadi

Bagi masyarakat awam, Yerusalem sering kali dianggap sebagai pusat spiritual tunggal di tanah Kanaan. Namun, garis sejarah Samaritanisme menawarkan perspektif yang berbeda. Mereka tidak memandang Yerusalem ataupun Bukit Sion sebagai tempat suci yang dipilih Tuhan untuk Bait Allah.

Sebaliknya, orang Samaria menempatkan Gunung Gerizim, yang terletak di dekat kota kuno Sikhem (sekarang Nablus di Tepi Barat), sebagai jantung dari seluruh aktivitas ibadah mereka. Berdasarkan keyakinan Samaritanisme:

  • Gunung Gerizim adalah lokasi asli di mana Bait Allah yang sejati seharusnya berdiri.

  • Tempat ini dipandang sebagai gunung berkat yang dipilih langsung oleh Tuhan sejak zaman kuno.

  • Hingga hari ini, seluruh ritual besar, doa, dan orientasi spiritual komunitas Samaria tetap berkiblat penuh ke puncak Gunung Gerizim.

Figur Nabi Musa sebagai Satu-satunya Utusan

Sistem teologi Samaritanisme sangat menjunjung tinggi prinsip monoteisme yang murni dan kepemimpinan spiritual yang tunggal. Dalam struktur keimanan mereka, Nabi Musa menempati posisi yang tidak tergantikan. Beliau dipandang sebagai satu-satunya nabi sejati dan pembawa hukum utama dari Tuhan.

Masyarakat Samaria percaya bahwa tidak ada nabi lain yang setara atau yang dapat menggantikan otoritas Musa setelah kematiannya. Pandangan ini secara otomatis menolak nubuat-nubuat dari para nabi setelah era Musa yang diakui dalam tradisi Yudaisme maupun Kristen.

Ritual dan Praktik Keagamaan yang Autentik

Meskipun populasi mereka saat ini tergolong sangat kecil, kepatuhan orang Samaria terhadap hukum-hukum kuno tetap tidak tergoyahkan. Mereka masih menjalankan berbagai praktik keagamaan yang sekilas mirip dengan tradisi Yahudi, namun dengan tingkat ortodoksi dan ritus yang sangat spesifik.

Beberapa praktik utama mereka meliputi:

  • Hari Sabat: Dijaga dengan sangat ketat sesuai dengan perintah Taurat, di mana mereka benar-benar berhenti dari segala aktivitas fisik dan fokus pada ibadah.

  • Hari Raya Paskah (Passover): Dirayakan dengan cara yang sangat tradisional di lereng Gunung Gerizim, lengkap dengan ritual kurban domba sesuai dengan petunjuk tekstual kitab Taurat kuno.

  • Hari Raya Besar Lainnya: Mereka juga merayakan hari-hari besar seperti Shavuot dan Sukkot dengan berziarah ke gunung suci mereka.

Melalui konsistensi dalam menjaga ritual, bahasa, dan wilayah suci ini, Samaritanisme berhasil bertahan melintasi berbagai pergantian imperium besar dunia. Memahami Samaritanisme memberikan kita jendela berharga untuk melihat bagaimana sebuah tradisi kuno mampu mempertahankan orisinalitasnya di tengah arus modernisasi.

Share: Facebook Twitter Linkedin

Comments are closed.